Menu Horizontal

 


Referensi :
Knowledge :
Download :
SKP KEPALA SEKOLAH
(H. M. Purwono, S. Pd )

1. KAB. BANGGAI (100.0 %)
2. KAB. KUNINGAN (100.0 %)
3. KAB. JOMBANG (100.0 %)
4. KAB. SUBANG (100.0 %)
5. KAB. KARAWANG (100.0 %)

Anda Pengunjung ke :

Kolom Iklan :
hub. admin@mebermutu.org

 

Kamis, 25 Februari 2016
PELAKSANAAN DEMONSTRASI TERBIMBING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA SISWA Oleh: Sri Wahyu W.
Kontributor : FMKKS KOTIM
ARTIKEL ILMIAH

PELAKSANAAN DEMONSTRASI TERBIMBING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA SISWA

Oleh: Sri Wahyu Widayanti, S.Pd
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 3 Sampit
I. Rasional
Walaupun berbagai upaya sudah dikembangkan, namun pencapaian hasil belajar siswa SMP dalam pembelajaran bahasa Indonesia masih belum optimal. Permasalahan tersebut mencakup keempat keterampilan berbahasa yakni mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pembelajaran di kelas VII SMP materi pembelajaran yang berkaitan dengan keterampilan praktis dalam kehidupan siswa banyak berkait dengan kompetensi membaca. Hal itu salah satunya dibuktikan dengan adanya pengembangan standar kompetensi yang berkaitan dengan materi pembelajaran membaca, yakni keterampilan membaca nonsastra. Materi tersebut berhubungan dengan keterampilan siswa dalam membeca teks atau naskah upacara. Naskah upacara dalam kehidupan di sekolah senantiasa berkaitan dengan tugas siswa. Materi tersebut dipelajari berdasarkan Standar Kompetensi (SK): 3, yakni: Membaca (Memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara membaca).
Dalam proses pembelajaran siswa sering tidak aktif dan cenderung bermain-main. Hal itu menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa, baik motivasi instrinsik maupun motivasi ekstrinsik masih belum optimal.
Menurut Djamarah (2002 :115), motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Berkaitan dengan motivasi ekstrinsik, Djamarah (2002 :117), menyatakan bahwa motivasi ekstrinsik merupakan kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
Salah satu yang memiliki permasalahan dalam pembelajaran berbahasa Indonesia adalah siswa. Siswa memiliki kemampuan yang heterogen. Hubungan antarsiswa saat menyelesaikan tugas berkelompok, kecenderungannya, siswa memilih teman yang disukai saja. Hal itu berarti siswa menghadapi kendala dalam menyelesaikan tugas berbasis kelompok. Materi pembelajaran yang memiliki tingkat kesulitan tinggi dan daya tarik rendah salah satunya adalah membaca nonsastra.
Dalam pengembangan pembelajaran membaca, khususnya keterampilan membaca nonsastra, terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi siswa. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran tersebut dapat diidentifikasi, yang antara lain berupa (1) Hasil belajar siswa memiliki kesenjangan; (2) Keterampilan dan kepercayaan siswa dalam membaca masih rendah; (3) Minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran membaca nonsastra masih kurang; (4) Model pembelajaran yang dikembangkan guru kurang efektif; (5) Proses pembelajaran membaca kurang menarik; (6) Model pembelajaran demonstrasi terbimbing belum diterapkan; dan (8) Banyak siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran membaca.
Kondisi tersebut perlu dipecahkan dengan inovasi model pembelajaran yang lebih menarik dan efektif. Salah satu terobosan yang dinilai efektif adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe demonstrasi terbimbing. Model ini memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit dengan memberikan waktu kepada siswa agar lebih banyak untuk melakukan demonstrasi dan menekankan saling membantu satu sama lain.
Pemecahan permasalahan dalam pembelajaran yang dilakukan secara efektif dan optimal sangat bermanfaat bagi banyak pihak, khususnya bagi siswa, antara lain (a) Meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia; (b) Meningkatkan hasil belajar materi membaca nonsastra; (c) Siswa mendapatkan perhatian optimal dari guru; dan (d) Meningkatkan keaktifan, keberanian, dan pengalaman yang berkaitan dengan keterampilan membaca siswa.
II. Pelaksanaan Pembelajaran Demonstrasi Terbimbing
Suprijono (2011) menyebutkan model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Pelaksanaan prosedur model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola lebih efektif.
Sebagai upaya inovatif, pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia dinilai efektif melalui penerapan model pembelajaran demonstrasi terbimbing. Diasumsi bahwa pengembangan kemampuan dan keterampilan berbahasa membutuhkan waktu untuk melakukan secara langsung, maka model yang tepat adalah demonstrasi terbimbing. Model ini dapat memberi waktu bertindak kepada siswa untuk bertindak dengan saling memberi respon dan saling membantu. Melalui pengembangakan model pembelajaran demonstrasi terbimbing guru memberikan peran sebagai pembimbing yang berhubungan dengan pelajaran dan siswa diminta melakukan secara mandiri untuk beberapa waktu agar dapat saling memahami materi yang dipelajari.
Pembelajaran domonstrasi terbimbing merupakan model mengajar yang menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau caranya melakukan sesuatu untuk mempertunjukkan proses tertentu. Dalam pelaksanaan demonstrasi terbimbing guru harus sudah yakin bahwa seluruh siswa dapat memperhatikan dan mengamati terhadap objek yang akan didemonstrasikan. Sebelum pembelajaran guru sudah mempersiapkan alat–alat yang digunakan untuk digunakan dalam demonstrasi terbimbing.
Ada beberapa karakteristik dan prosedur model demonstrasi terbimbing yang dilakukan dalam pembelajaran, yakni sebagai berikut:
1. Mempersiapkan alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran
2. Memberikan penjelasan tentang topik yang akan didemonstrasikan
3. Pelaksanaan demonstrsi bersamaan dengan pembimbingan dan peniruan dari siswa
4. Penguatan dilakukan dengan diskusi, tanya jawab, dan atau latihan terhadap hasil demonstrasi terbimbing.
Dalam pelaksanaan demonstrasi terbimbing kemampuan guru harus dioptimalkan dalam menunjung keberhasilan pembelajaran. Guru harus mampu menguasai proses pendemonstrasian topik atau materi keterampilan membaca yang akan dipraktekkan siswa. Guru juga harus mampu mengelola, menguasai siswa sesuai dengan karakteristiknya secara menyeluruh. Selain itu, guru harus mampu menggunakan alat bantu yang digunakan demonstrasi dan mampu melaksanakan penilaian proses secara tepat.
Kondisi dan kemampuan siswa harus diperhatikan untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan demonstrasi terbimbing. Siswa idealnya memiliki motivasi, perhatian dan minat terhadap topik yang didemonstrasikan. Agar demonstrasi lancar, siswa harus memahami tentang tujuan demonstrasi. Siswa harus mampu mengamati proses yang dilakukan oleh guru. Siswa harus mampu mengidentifikasi kondisi dan alat yang digunakan dalam demonstrasi terbimbing. Siswa harus mampu melaksanakan bimbingan kepada teman lain. Siswa harus mampu praktek mendemonstrasikan topik atau materi yang dipelajari.
III. Keterampilan Membaca Siswa
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, hasil belajar siswa berupa kemampuan berbahasa, yang berupa keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Secara umum, hasil belajar siswa adalah nilai yang diperoleh siswa selama kegiatan belajar mengajar. Belajar diartikan sebagai gejala perubahan tingkah laku yang relatif permanen dari seseorang dalam mencapai tujuan tertentu. Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam disposisi atau kapabilitas seseorang, dalam kurun waktu tertentu, dan bukan semata-mata sebagai proses pertumbuhan.
Susanto (1991) menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana otak atau pikiran mengadakan reaksi terhadap kondisi-kondisi luar dan reaksi itu dapat dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya. Melalui proses belajar anak dapat mengadaptasikan dirinya pada lingkungan hidupnya. Adaptasi itu dapat berupa perubahan pikiran, sikap, dan keterampilan. Hasil belajar yang diukur pada pembelajaran meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Karena itu, guru tidak hanya menilai siswa dari aspek intelektual tetapi kemampuan sosial, sikap siswa selama proses belajar mengajar serta keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga dinilai oleh guru. Siswa yang telah mengalami pembelajaran diharapkan memilki pengetahuan dan ketrampilan baru serta perbaikan sikap sebagai hasil dari pembelajaran yang telah dialami siswa tersebut.
Menurut Poerwodarminto (1991:768), prestasi belajar adalah hasil yang dicapai (dilakukan, dikerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Pengukuran hasil belajar bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa dalam menyerap materi. Sebaiknya hasil belajar yang telah dinilai oleh guru diberitahukan agar siswa mengetahui kemajuan yang dicapai dan kekurangan yang masih perlu diperbaiki. Penilaian hasil belajar pada akhirnya sebagai bahan refleksi siswa mengenai kegiatan belajarnya dan refleksi guru terhadap kemampuan mengajarnya serta mengevaluasi pencapaian target kurikulum.
Winarno Surahmad (1997: 88) menyatakan sebagai berikut: “Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”.Hasil belajar siswa pada umumnya disebut dengan istilah prestasi belajar. Hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar yang diakhiri dengan mengerjakan tugas, atau tes dari guru pada akhir proses mengajar berlangsung pada saat satu standar kompetensi atau satu kompetensi selesai dipelajari. Prestasi belajar merupakan suatu hasil yang dicapai setelah siswa melalui suatu proses belajar dapat berwujud angka simbol-simbol yang menyatakan kemampuan siswa dalam suatu materi pelajaran tertentu. Hasil belajar dapat dicapai secara individu oleh siswa atau dapat bersifat kelompok.
IV. Keterampilan Membaca Nonsastra
Pada standar kompetensi ini terdapat kompetensi dasar yang berkaitan dengan materi pembelajaran membaca nonsastra. Materi tersebut dipelajari berdasarkan Standar Kompetensi (SK): 3. Membaca (Memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara membaca). Standar kompetensi tersebut dikembangkan dengan kompetensi dasar (KD), yang salah satunya adalah: 3.3 Membacakan berbagai teks perangkat upacara dengan intonasi yang tepat. Kompetensi dasar tersebut dikembangkan dengan materi membaca nonsastra.
Pembelajaran membaca nonsastra dikembangkan dan diadaptasi dengan materi pembelajaran yang mencakup berbagai bacaan teks perangkat upacara. Beberapa teks perangkat upacara yang wajib dapat dibacakan dengan tepat antara lain teks yang dibaca dalam upacara bendera, yakni (1) teks Pancasila, (2) teks pembukaan UUD 1945, (3) teks Janji Siswa, dan (4) teks Doa. Tujuan pembelajaran ini mencakup (a) menyimpulkan isi teks, (b) merangkai pokok-pokok isi teks, dan (c) membacakan teks dengan intonasi, penjedaan, dan sikap tubuh yang tepat. Tujuan pembelajaran tersebut diupayakan tercapai melalui pembelajaran yang dikembangkan dengan tahapan (1) Membacakan teks non sastra berupa teks perangkat upacara sebagai model; (2) Mendiskusikan isi teks nonsastra berupa teks perangkat upacara; 3) Membandingkan ciri-ciri sikap tubuh, intonasi, dan penjedaan dalam membacakan teks non sastra berupa teks perangkat upacara; (4) Membimbing cara mendemonstrasikan pembacaan teks non sastra berupa teks perangkat upacara dengan sikap tubuh, intonasi, dan penjedaan yang tepat; dan (5) Mendemonstrasikan atau memraktikkan pembacaan teks nonsastra berupa teks perangkat upacara dengan sikap tubuh, intonasi, dan penjedaan yang tepat.
Dalam pembelajaran ini pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan sebagai berikut:
(a) Melaksanakan tes awal kemampuan siswa dengan materi membaca nonsastra teks perangkat upacara
(b) Melaksanakan kegiatan pembukaan pembelajaran dengan model pembelajaran demonstrasi terbimbing.
(c) Siswa melaksanakan demonstrasi terbimbing secara berkelompok dengan materi tentang membaca nonsastra teks perangkat upacara.
(d) Melaksanakan pembahasan hasil pelaksanaan demonstrasi terbimbing siswa tentang membaca nonsastra teks perangkat upacara.
(e) Merumuskan kesimpulan hasil pelaksanaan tugas demonstrasi terbimbing siswa tentang membaca nonsastra teks perangkat upacara.
(f) Melaksanakan refleksi hasil pelaksanaan pembelajaran
(g) Melaksanakan tes akhir pembelajaran, melalui praktik membaca nonsastra teks perangkat upacara.
Pengalaman melaksanakan pembelajaran dengan model demonstrasi terbimbing, menunjukkan keterampilan siswa dalam membaca nonsastra teks perangkat upacara mengalami peningkatan. Perbaikan dan penyempurnaan harus terus dilakukan dalam penerapan model pembelajaran demonstrasi terbimbing pada materi membaca nonsastra yakni ragam teks perangkat upacara. Peningkatan keterampilan siswa dalam membaca nonsastra, yakni membaca teks perangkat upacara ditunjukkan dengan pencapaian hasil belajar siswa yang dicapai pada akhir pembelajaran. Pencapaian hasil belajar dengan materi membaca nonsastra yakni ragam teks perangkat upacara tersebut mencakup dua kriteria keberhasilan, yaitu kriteria ketuntasan secara klasikal dan secara individual.
Melalui penggunaan inovasi model belajar demonstrasi terbimbing tingkat ketuntasan hasil belajar siswa secara individual mencapai nilai rata-rata yang melampaui indikator keberhasilan pembelajaran secara individual, yang KKM-nya ditetapkan pada awal pembelajaran. Berdasarkan kriteria klasikal, hasil belajar siswa mencapai ketuntasan klasikal secara optimal yakni melampaui target pencapaian ketuntasan klasikal, sebesar 85%.
Dengan demikian, pencapaian di atas menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan inovasi model demonstrasi terbimbing pada materi membaca nonsastra yakni membaca ragam teks perangkat upacara meningkatkan keterampilan siswa yang ditunjukkan dengan hasil belajar siswa yang sudah memenuhi indikator ketuntasan individual dan ketuntasan klasikal. Hal itu berarti pencapaian hasil belajar siswa mengalami peningkatan secara optimal. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran membaca nonsastra yakni membaca ragam teks perangkat upacara dengan inovasi model pembelajaran demonstrasi terbimbing berhasil meningkatkan keterampilan membaca siswa.
V. Refleksi
Berdasarkan pencapaian hasil pembelajaran menggunakan inovasi model demonstrasi terbimbing pada materi membaca nonsastra yakni membaca ragam teks perangkat upacara, yang dipaparkan di atas, dapat dilakukan refleksi pelaksanaan pembelajaran, dengan hasil dinyatakan sebagai berikut:
1) Penerapan model demonstrasi terbimbing mengembangkan kualitas pembelajaran. Terjadi peningkatan kemampuan siswa dan guru dalam bentuk proses bertanya jawab membahas karakteristik, struktur, intonasi, penjedaan, sikap tubuh, dan isi teks nonsastra yang dibaca yakni ragam teks perangkat upacara.
2) Melalui penerapan model demonstrasi terbimbing siswa aktif secara langsung membaca teks nonsastra yakni membaca ragam teks perangkat upacara.
3) Melalui penerapan model demonstrasi terbimbing siswa yang memiliki keterampilan terbaik dijadikan sebagai acuan pembelajaran untuk dijadikan pembimbing antarsiswa.
4) Penerapan model demonstrasi terbimbing mengantarkan siswa secara langsung memikirkan dengan cara mencari, memilih, dan merumuskan sistematika, intonasi, penjedaan, dan sikap tubuh pada saat membaca nonsastra yakni ragam teks perangkat upacara yang benar.
5) Penerapan model demonstrasi terbimbing memberi kesempatan secara luas kepada siswa untuk praktek membaca nonsastra yakni membaca ragam teks perangkat upacara dengan sistematika, intonasi, penjedaan, dan sikap tubuh yang benar, melalui konfirmasi dan penguatan dari guru.
6) Penerapan model demonstrasi terbimbing meningkatkan keterampilan membaca siswa, yang ditunjukkan dengan pencapaian ketuntasan hasil belajar siswa baik ketuntasan secara klasikal maupun ketuntasan secara individual setelah mengikuti kegiatan penilaian dengan tes praktik membaca ragam teks perangkat upacara.
VI. Rekomendasi
Mengacu pada refleksi pembelajaran di atas, dirumuskan rekomendasi sebagai berikut:
(1) Agar keterampilan membaca nonsastra yakni membaca ragam teks perangkat upacara siswa meningkat, hendaknya guru menerapkan model pembelajaran demonstrasi terbimbing.
(2) Agar pengembangan keterampilan berbahasa siswa meningkat, hendaknya guru mengembangkan inovasi dan kreativitas melalui pembelajaran serupa secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah. Syaiful Bahri. 2002 . Psikologi Belajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: RineksaCipta.
Poerwodarminto. 2002. KBBI/ Kamus Besar Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Suparno. 2007. Keterampilan Membaca. Jakarta: Universitas Terbuka.
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Surakhmad, Winarno. 1997. Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.
Susanto.1991. Dasar-dasar Interaksi Belajar . Surabaya Usaha Nasional.


[Lihat Tanggapan]


[ Kembali ]