Menu Horizontal

 


Referensi :
Knowledge :
Download :
SKP KEPALA SEKOLAH
(H. M. Purwono, S. Pd )

1. KAB. BANGGAI (100.0 %)
2. KAB. KUNINGAN (100.0 %)
3. KAB. JOMBANG (100.0 %)
4. KAB. SUBANG (100.0 %)
5. KAB. KARAWANG (100.0 %)

Anda Pengunjung ke :

Kolom Iklan :
hub. admin@mebermutu.org

 

»Berita
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI PENGUKURA
JURNAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATERI PENGUKURAN PADA
PESERTA DIDIK KELAS VIII R1 SMP NEGERI 3 SAMPIT SEMESTER GENAP TAHUN 2014/2015

Oleh:Tri Susilawati, S.Pd
GURU MATEMATIKA SMP NEGERI 3 SAMPIT

ABSTRAK
Kata Kunci: pengukuran, group investigation

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar materi pengukuran pada pembelajaran matematika, yang selama ini, dirasakan peserta didik sebagai materi sulit. Rumusan masalah penelitian ini adalah sejauh mana efektivitas model pembelajaran group investigation dalam meningkatkan hasil belajar materi pengukuran pada peserta didik kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit semester genap tahun 2014/2015? Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar materi pengukuran secara efektif melalui penerapan model pembelajaran group investigation. Tindakan dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran group investigation. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII R1, yang berjumlah 39 peserta didik. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan metode observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Dalam pelaksanaannya peneliti melibatkan teman sejawat sebagai pengamat dan berkolaborasi dalam mengumpulkan data penelitian. Penelitian dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pengukuran. Hal itu ditunjukkan dengan pencapaian ketuntasan hasil belajar, yakni pada akhir tindakan siklus II ketuntasan klasikal mencapai 87%, yang berarti memenuhi indikator keberhasilan klasikal yang ditetapkan sebesar 85%. Secara individual mencapai nilai rata–rata 81, yang berarti sudah memenuhi indikator keberhasilan individual, yang ditetapkan dengan KKM sebesar 71. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam belajar materi pengukuran. Berdasarkan pencapaian tersebut dapat disimpulkan bahwa tindakan penelitian sudah berhasil memenuhi indikator keberhasilan penelitian pada akhir tindakan siklus II. Memperhatikan efektivitas pelaksanaan tindakan, peneliti menyarankan agar guru menerapkan model pembelajaran group investigation untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi pengukuran.
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran Matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Sampit selalu diupayakan secara optimal, sebagai aktualisasi dari visi sekolah, “Terwujudnya pendidikan yang bermutu, beriman dan berakhlak mulia serta berwawasan lingkungan hidup yang terintegrasi pada pendidikan karakter bangsa.” Sebagai aktualisasi dari visi sekolah, terutama yang berkaitan dengan indikator ketiga, yaitu terwujudnya pendidikan yang bermutu, efisien dan relevan; guru Matematika mengupayakan pengelolaan pembelajaran yang bermutu. Dalam proses pembelajaran guru berupaya mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Secara umum, peserta didik banyak yang masih menghadapi berbagai permasalahan dalam pembelajaran matematika. Permasalahan itu dialami juga oleh para peserta didik kelas VIII R1 di SMP Negeri 3 Sampit. Di kelas ini pembelajaran matematika harus ditindaklanjuti dengan pembelajaran remidial.
Pada umumnya, pembelajaran matematika cenderung berpusat pada guru. Akibatnya, peserta didik pasif dalam pembelajaran matematika. Kecenderungan ini salah satunya disebabkan oleh keterbatasan guru dalam mengembangkan model pembelajaran. Kurangnya kemampuan mengembangkan model pembelajaran membuat pembelajaran matematika cenderung monoton. Hal itu mempengaruhi tingkat kesulitan yang dihadapi peserta didik dalam menguasai materi pembelajaran, yang antara lain adalah materi pengukuran. Menghadapi kondisi tersebut, guru dituntut mampu menggunakan model pembelajaran yang inovatif sehingga dapat mengembangkan pembelajaran matematika yang bermakna bagi peserta didik. Penerapan model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik tersebut adalah model pembelajaran group investigation. Penerapan model pembelajaran group investigation sangat sesuai dengan materi pengukuran yang menurut peserta didik memiliki tingkat kesulitan tinggi. Latar belakang itulah yang mendasari dilakukannya penelitian tindakan kelas dengan judul Efektivitas Model Pembelajaran Group Investigation dalam Meningkatkan Hasil Belajar Materi Pengukuran pada Peserta Didik Kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit Semester Genap Tahun 2014/2015.
B. Indentifikasi Masalah
Permasalahan yang dihadapi peserta didik diidentifikasi sebagai berikut:
1. Materi pengukuran dianggap peserta didik sebagai materi yang sulit.
2. Hasil belajar peserta didik banyak yang belum mencapai KKM.
3. Pembelajaran yang dikembangkan oleh guru kurang bervariasi.
4. Suasana pembelajaran matematika belum menarik.
5. Pencapaian tujuan pembelajaran matematika tidak optimal.
6. Model pembelajaran group investigation belum diterapkan.
C. Batasan Masalah
Penelitian dibatasi untuk mengkaji masalah sebagai berikut:
1. Pembelajaran dikembangkan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pengukuran.
2. Tindakan menggunakan model pembelajaran group investigation.
D. Rumusan Masalah
Penelitian dilakukan dengan rumusan masalah Sejauh mana efektivitas model pembelajaran group investigation dalam meningkatkan hasil belajar materi pengukuran pada peserta didik kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit semester genap tahun 2014/2015?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIII R1 SMPN 3 Sampit tahun 2014/2015 pada materi pengukuran menggunakan model pembelajaran group investigation.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat penelitian bagi peserta didik :
a. Minat peserta didik dalam belajar matematika meningkat
b. Kemampuan peserta didik dalam materi pengukuran meningkat.
c. Peserta didik mendapat pengalaman langsung dalam hal meningkatkan kemampuan menguasai materi pengukuran.
d. Hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran matematika, khususnya materi pengukuran dapat meningkat.
2. Manfaat penelitian bagi guru:
a. Kompetensi guru dalam mengelola pembelajarn matematika meningkat.
b. Guru mendapat masukan secara langsung tentang efektifitas penggunaan model pembelajaran group investigation .
c. Guru memiliki referensi untuk pengembangan profesi
d. Guru mendapat tambahan wawasan tentang strategi pembelajaran.
e. Kinerja dan integritas guru lebih optimal.
3. Manfaat penelitian bagi sekolah:
a. Peserta didik di sekolah akan lebih berprestasi
b. Guru matematika di sekolah lebih berintegritas tinggi, kreatif, inovatif, dan profesional
c. Mendapat tambahan koleksi karya penelitian.
d. Menjadi acuan dalam pengembangan pembelajaran dan karir guru.
II. KAJIAN PUSTAKA
A. Strategi Pembelajaran Matematika SMP
Dalam pembelajaran matematika pemecahan masalah, merupakan fokus kegiatan (Diknas, 2006:78). Sedangkan definisi pembelajaran adalah sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik (Degeng, 1997:7). Dari pengertian di atas dapat dirumuskan bahwa strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih guru dalam suatu proses pembelajaran yang meliputi: (1) Kemana proses pembelajaran matematika?; (2) Apa yang menjadi isi dari proses pembelajaran matematika?; (3) Bagaimana pelaksanaan proses pembelajaran matematika?; dan (4) Sejauh mana proses pembelajaran matematika tersebut berhasil?
Matematika sebagai suatu ilmu memiliki objek dasar yang berupa fakta, konsep, dan prinsip. Menurut Sudjadi (1994:1), pendapat tentang matematika tampak adanya kelainan antara satu dengan lainnya, namun tetap dapat ditarik ciri-ciri atau karakteristik yang sama, antara lain: (1) Memiliki obyek kajian abstrak; (2) Bertumpuh pada kesepakatan; dan (3) Berpola pikir deduktif. Pembelajaran matematika harus di mulai dari yang konkrit, ke semi konkrit, dan berakhir pada yang abstrak. Dalam setiap memperkenalkan konsep atau bahan yang baru perlu memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari peserta didik sebelumnya.
(Karso, 2005:2-16) Dua hal penting yang merupakan, bagian dari tujuan pembelajaran matematika adalah pembentukan sifat dengan berpikir kritis dan kreatif untuk mengembangkan dua hal tersebut haruslah dapat mengembangkan imajinasi peserta didik dan rasa ingin tahu. Dua hal tersebut harus dikembangkan dan ditumbuhkan, peserta didik diberi kesempatan berpendapat, bertanya, sehingga proses pembelajaran matematika lebih bermakna. Dalam pembelajaran ini guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi, pendekatan, metode, dan teknik yang melibatkan keaktifan peserta didik, baik secara mental maupun fisiknya. Selain itu, optimalisasi interaksi dan optimalisasi seluruh indera peserta didik harus terlibat.
Penekanan pembelajaran matematika tidak hanya pada melatih keterampilan dan hafal fakta, tetapi pada pemahaman konsep, dalam pemahamannya tentu saja disesuaikan dengan tingkat berpikir peserta didik, mengingat objek matematika adalah abstrak. Karena objeknya abstrak maka penanaman konsep matematika di sekolah menengah pertama sedapat mungkin didukung dengan upaya yang dapat mengantarkan peserta didik memahami objek pembelajaran yang abstrak dengan penyajian secara konkrit. Selain itu dalam belajar matematika, peserta didik memerlukan suatu dorongan (motivasi) yang tinggi. Kurangnya dorongan seringkali menimbulkan peserta didik mengalami patah semangat. Dengan demikian guru haruslah pandai-pandai dalam memilih metode/model, strategi dan media yang diperlukan. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan menyenangkan peserta didik sehingga efektif untuk meningkatkan hasil belajar adalah model pembelajaran group investigation.

B. Hasil Belajar
1. Definisi dan bentuk hasil belajar
Hasil belajar peserta didik adalah hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik selama kegiatan pembelajaran mengajar. Pembelajaran diartikan sebagai gejala perubahan tingkah laku yang relatif permanen dari seseorang dalam mencapai tujuan tertentu De Cecco (dalam Witjaksono, 2010:6). Menurut Gagne (dalam Witjaksono, 2010:6) pembelajaran adalah suatu perubahan yang terjadi dalam disposisi atau kapabilitas seseorang, dalam kurun waktu tertentu, dan bukan semata-mata sebagai proses pertumbuhan. Pendapat senada juga diutarakan oleh Susanto (1991:3) yang menyatakan bahwa pembelajaran merupakan proses di mana otak atau pikiran mengadakan reaksi terhadap kondisi-kondisi luar dan reaksi itu dapat dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya. Melalui proses pembelajaran anak dapat mengadaptasikan dirinya pada lingkungan hidupnya.
Hasil belajar yang diukur pada pembelajaran berlandaskan kurikulum 2006 meliputi kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Maka guru tidak hanya menilai pembelajaran peserta didik dari aspek intelektual tetapi kemampuan sosial, sikap peserta didik selama proses pembelajaran serta keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran juga dinilai oleh guru. Peserta didik yang telah mengalami pembelajaran diharapkan memilki pengetahuan dan keberhasilan baru serta perbaikan sikap sebagai hasil dari pembelajaran yang telah dialami peserta didik tersebut. Penilaian hasil pembelajaran sering disebut dengan istilah penilaian hasil pembelajaran. Untuk hasil pembelajaran, maka guru mengadakan penilaian terhadap keseluruhan hasil pembelajaran. Penilaian merupakan penentuan taraf penguasaan atau kemampuan sebagai mana yang ditetapkan dan diharapkan dicapai untuk setiap mata pelajaran. Penilaian terhadap hasil pembelajaran dianggap pokok, sebab dengan menilai hasil belajar, sekaligus banyak hal yang dapat dicapai, misalnya pencapaian aspek-aspek kognitif, efektif, maupun psikomotor.
C. Peta Konsep Materi Pengukuran
Pada mata pelajaran matematika peserta didik kelas VIII, materi pengukuran disajikan pada semester genap dengan standar kompetensi Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas dan bagian-bagiannya, serta menentukan ukurannya. Standar kompetensi tersebut dikembangkan dengan tiga kompetensi dasar yaitu kompetensi dasar (5.1) yaitu, Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, prisma, dan limas serta bagian-bagiannya; kompetensi dasar (5.2) yaitu, Membuat jaring-jaring kubus, balok, prisma, dan limas;dan kompetensi dasar (5.3) yaitu, Menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, prisma dan limas.
D. Kerangka Berpikir Penelitian
Kerangka pikir penelitian dikembangkan untuk menggambarkan tentang efektifitas pelaksanaan penelitian melalui penggunaan model pembelajaran group investigation dalam pembelajaran materi pengukuran. Pada pembelajaran prasiklus pembelajaran berlangsung kurang efektif. Melalui penggunaan model pembelajaran group investigation pada pembelajaran siklus I dan siklus II, peserta didik mampu mencapai kompetensi yang diharapkan. Strategi yang digunakan dalam pembelajaran materi pengukuran yakni penerapan model pembelajaran group investigation selama dua siklus mengantarkan peserta didik dapat pembelajaran lebih aktif. Pemilihan model pembelajaran group investigation dinilai mampu meningkatkan keaktifan dan semangat peserta didik untuk memecahkan kesulitan dalam pembelajaran materi pengukuran, sehingga hasil belajar peserta didik meningkat secara optimal.
E. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini dilakukan dengan hipotesis tindakan sebagai berikut: Penggunaan model pembelajaran group investigation secara efektif meningkatkan hasil belajar materi pengukuran pada peserta didik kelas VIII R1 SMPN 3 Sampit tahun 2014/2015

III.METODE PENELITIAN
A. Model Penelitian
Berkaitan dengan jenis tindakannya, penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) kelas. Penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah belajar di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif. Secara deskriptif, penelitian mengembangkan hasil belajar yang dicapai peserta didik . Penelitian tindakan dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu (a) guru sebagai peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif, (c) simultan teritegratif, dan (d) administrasi sosial eksperimental. Dalam pelaksanaan penelitian ini peneliti bekerjasama dengan guru mitra, yaitu guru mata pelajaran matematika. Guru mitra bertindak sebagai pengamat terhadap kehadiran dan tindakan peneliti sebagai guru mata pelajaran dan aktivitas peserta didik selama melaksanakan kegiatan belajar. Dengan demikian data penelitian lebih objektif dan valid sesuai dengan yang diperlukan. Untuk mencapai tujuan peneliti secara penuh berkontribusi dan terlibat langsung dalam setiap tahapan penelitian, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi
B. Prosedur Penelitian
Arikunto (2002:82) Penelitian tindakan dilaksanakan dalam bentuk siklus. Tiap-tiap siklus terdiri atas empat langkah yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Kegiatan belajar pada setiap siklus dilakukan dengan tahap sebagai berikut.
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti tindakan dengan langkah-langkah: 1) menyusun rencana belajar sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan, 2) menyusun lembar pengamatan 3) menyusun rancangan evaluasi pembelajaran.
b. Tindakan
Dalam tahap ini dilakukan tindakan sesuai rencana yang telah ditetapkan, dengan model pembelajaran group investigation yang secara berurutan dilaksanakan sebagai berikut.
1) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen.
2) Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok.
3) Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain.
4) Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan melalui diskusi kelompok.
5) Setelah selesai diskusi kelompok, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok untuk ditanggapi kelompok lain.
6) Guru memberikan penjelasan singkat sebagai konfirmasi sekaligus memandu perumusan kesimpulan bersama, pelaksanaan evaluasi, dan penutup.
c. Pengamatan
Sasaran observasi adalah kegiatan peserta didik selama penelitian berlangsung. Agar pengamatan objektif, penulis dibantu guru mitra untuk ikut melaksanakan pengamatan, sebagai kolaborator. Pengamatan dilakukan dari kegiatan awal sampai akhir pembelajaran. Aspek-aspek yang diamati adalah perilaku peserta didik selama mengikuti proses belajar dengan model pembelajaran group investigation seperti kesungguhan peserta didik dalam mempelajari materi pengukuran.
d. Refleksi
Pada bagian ini peneliti akan menganalisis data yang terkumpul sejak pelaksanaan belajar hingga hasil belajar. Berdasarkan analisis dapat dilakukan refleksi yang meliputi kegiatan sebagai berikut:
l) Pengungkapan hasil pengamatan oleh peneliti bersama kolaborator tentang kelebihan dan kelemahan dalam belajar siklus satu.
2) Pengungkapan tindakan-tindakan yang telah dilakukan peserta didik selama proses belajar.
3) Pengungkapan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh guru selama mengajar.
C. Teknik Penelitian
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik tes, telaah dokumen, dan observasi. Penggunaan teknik tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan informasi sebagai data mengenai pelaksanaan dan hasil belajar yang dijadikan tindakan. Data tentang hasil belajar peserta didik dalam pelajaran Matematika pada penelitian ini dikumpulkan oleh guru, kolaborator, dan peserta didik.
D. Instrumen Penelitian
Dalam pelaksanaaan penelitian, peneliti menggunakan instrumen untuk pengumpulan data meliputi lembar observasi atau lembar pengamatan, lembar telaah hasil kerja peserta didik, dan soal tes.
E. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui keefektifan penggunaan model pembelajaran group investigation dalam pembelajaran materi pengukuran perlu diadakan analisis data. Sesuai dengan jenis data yang dikumpulkan, ada dua teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis kuantitatif dan analisis kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan terhadap hasil tes, sedangkan analisis kualitatif digunakan terhadap data kualitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap aktivitas peserta didik dalam menyelesaikan tentang materi kegiatan atau hal-hal lain yang tampak selama berlangsungnya penelitian. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan persentase keberhasilan peserta didik, setelah pembelajaran setiap siklus dilakukan evaluasi berupa tes tertulis. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana. Untuk menilai hasil latihan atau tes formatif peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh peserta didik, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut.


F. Indikator Keberhasilan Penelitian
Penelitian dinyatakan berhasil bila hasil belajar peserta didik memenuhi dua indicator keberhasilan, yakni kriteria ketuntasan individual dan kriteria ketuntasan klasikal. Dalam setiap tindakan penelitian ini secara individual peserta didik dinyatakan berhasil bila mampu mencapai hasil belajar dengan nilai minimum 71. Indikator keberhasilan penelitian secara klasikal ditetapkan dengan kriteria ketuntasan 85%.
G. Subjek Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan terhadap peserta didik kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit. Pada tahun pembelajaran 2014/2015 peserta didik kelas VIII R1 berjumlah 39 peserta didik. Ketigapuluh sembilan peserta didik tersebut terdiri atas 7 siswa putra dan 32 peserta didik putri. Pemilihan Kelas VIII R1 ini dilakukan dengan pertimbangan (1) kelas ini memiliki karakteristik yang heterogen, baik dari segi tingkat kemampuan awal maupun motivasi dan perilaku; (2) pada tingkat sebelumnya hasil belajar matematika memiliki nilai rata-rata kelas tergolong rendah.
H. Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada peserta didik kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit. Sekolah terletak di wilayah Kota Sampit dengan alamat di Jl. Criistopel Mihing Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah.
I. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015 selama tiga bulan, yakni bulan Maret, April, dan Mei tahun 2015. Waktu pelaksanaan tersebut disesuaikan dengan jadwal mata pelajaran matematika yang sudah disusun pada awal semester genap.

IV.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Hasil Belajar Prasiklus
Pembelajaran prasiklus menunjukkan beberapa peserta didik memiliki minat tinggi dalam pembelajaran matematika. Namun demikian, jumlah peserta didik yang kurang berminat lebih besar. Perhatian peserta didik sangat beragam. Sebagian besar peserta didik kurang berminat dalam pembelajaran. Hal itu dibuktikan dengan adanya peserta didik yang ribut pada waktu belajar matematika. Beberapa peserta didik tidak langsung memusatkan perhatian untuk menyelesaikan tugas belajar matematika. Akibatnya, peserta didik tidak mampu menyelesaikan tugas tepat waktu. Hal itu berdampak pada pencapaian hasil belajar peserta didik pada akhir pembelajaran.
Dalam tahap prasiklus terdapat 5 peserta didik atau senilai dengan 13% mencapai nilai tuntas. Jumlah peserta didik tuntas tersebut dari seluruh jumlah peserta didik di kelas VIII R1 yang berjumlah 39 peserta didik . Hal itu berarti ketuntasan kelas dalam pembelajaran materi tanpa menggunakan inovasi pada akhir pembelajaran prasiklus belum memenuhi target ketuntasan kelas atau ketuntasan klasikal yang ditetapkan sebesar 85%. Berdasarkan kriteria individual, rata-rata nilai yang dicapai peserta didik adalah 67. Capaian tersebut berarti belum memenuhi target ketuntasan belajar secara individual yang ditetapkan dalam KKM senilai 71.
B. Data Hasil Belajar Tindakan Siklus I
Penggunaan model pembelajaran group investigation pada pembelajaran siklus I meningkatkan pencapaian tujuan pembelajaran. Melalui penggunaan model pembelajaran group investigation, peserta didik secara berkelompok melakukan penyelesaian tugas materi pengukuran, setelah guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain. Masing-masing kelompok menyelesaian tugas materi pengukuran dan membahas hasil kerja secara kooperatif setelah menemukan jawaban melalui diskusi kelompok. Setelah selesai diskusi kelompok, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok untuk ditanggapi kelompok lain. Guru memberikan penjelasan singkat sebagai konfirmasi sekaligus memandu perumusan kesimpulan bersama, yang dilanjutkan dengan kegiatan evaluasi.
Berdasarkan pengamatan selama tindakan, peserta didik menunjukkan dapat memahami materi pengukuran. Selain itu, peserta didik mendapatkan pengalaman belajar tentang materi pengukuran sehingga minat dan motivasi belajarnya meningkat. Efektifitas hasil belajar peserta didik pada siklus I ditunjukkan dengan adanya peningkatan persentase peserta didik yang tuntas dibandingkan dengan hasil belajar prasiklus.
Pada pelaksanaan tindakan siklus I peserta didik yang berhasil mencapai nilai tuntas berjumlah 16 peserta didik atau senilai 41%. Hal itu berarti ketuntasan kelas dalam pembelajaran materi pengukuran dengan menggunakan model pembelajaran group investigation pada siklus I belum memenuhi target ketuntasan kelas atau ketuntasan klasikal yang ditetapkan sebesar 85%. Nilai rata-rata pada akhir pelaksanaan tindakan siklus I pembelajaran pada materi pengukuran dengan menggunakan model pembelajaran group investigation peserta didik mencapai nilai rata-rata sebesar 70. Dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam penelitian ini, yakni KKM senilai 71, maka ketuntasan individual yang dicapai peserta didik pada siklus I belum memenuhi kriteria ketuntasan yang ditargetkan. Refleksi siklus I dilakukan dengan memperhatikan masukan dari peserta didik, hasil belajar, dan temuan selama pelaksanaan pembelajaran. Hasil refleksi siklus I, sejumlah peserta didik belum memahami materi pengukuran secara tuntas. Selain itu, keaktifan anggota kelompok dalam pembelajaran dengan menggunakan model group investigation masih rendah. Hasil refleksi tindakan siklus I dijadikan dasar perbaikan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran siklus II.

C. Data Hasil Belajar Tindakan Siklus II.
Tindakan siklus II dilakukan dengan berbaikan kegiatan inti pembelajaran sesuai dengan hasil refleksi siklus I. Penyempurnaan pembelajaran dalam siklus II ini dilakukan dengan mengacu pada pemecahan permasalahan yang terjadi pada siklus I. Hasil refleksi tindakan siklus I itulah yang dijadikan dasar perbaikan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran siklus II. Dengan demikian, melalui tindakan pada siklus II hasil belajar peserta didik lebih optimal. Permasalahan yang terjadi pada kegiatan siklus I dipecahkan melalui peningkatan kualitas kegiatan dalam pembelajaran.
Setelah menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok, guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas materi pengukuran yang berbeda dari kelompok lain. Masing-masing kelompok menyelesaian tugas materi pengukuran dan membahas hasil kerja secara kooperatif setelah menemukan jawaban melalui diskusi kelompok. Peserta didik dibimbing untuk aktif mengerjakan tugas materi pengukuran secara berkelompok. Setelah selesai diskusi kelompok, juru bicara kelompok menyampaikan hasil pembahasan kelompok untuk ditanggapi kelompok lain yang melibatkan semua peserta didik. Guru memberikan penjelasan singkat sebagai konfirmasi sekaligus memandu perumusan kesimpulan bersama, yang dilanjutkan dengan kegiatan evaluasi.
Perbaikan perencanaan dan pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran siklus II menghasilkan peningkatan persentase ketuntasan hasil belajar. Pelaksanaan tindakan siklus II dalam pembelajaran materi pengukuran menggunakan model pembelajaran group investigation yang sudah diperbaiki mengantarkan peserta didik yang hasil belajarnya tuntas berjumlah 34 peserta didik atau senilai 87%. Ketuntasan kelas tersebut menunjukkan hasil tindakan penelitian siklus II sudah mencapai yang secara klasikal ditetapkan sebesar 85%. Nilai rata-rata pada akhir pelaksanaan tindakan siklus II pembelajaran pada materi pengukuran dengan menggunakan model pembelajaran group investigation peserta didik mencapai nilai rata-rata sebesar 81. Dibandingkan dengan indikator keberhasilan penelitian yang ditetapkan dengan KKM senilai 71, maka indikator keberhasilan individual yang dicapai peserta didik pada siklus II sudah memenuhi kriteria ketuntasan yang ditargetkan.
Memperhatikan keberhasilan tindakan ini secara klasikal persentase ketuntasan ditetapkan 85%, maka capaian hasil tindakan siklus II ini dijadikan dasar refleksi bahwa penelitian sudah mencapai tujuan sebagaimana yang ditetapkan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa persentase peserta didik yang hasil belajarnya tidak tuntas mencapai 13%. Capaian tersebut menunjukkan persentase ketuntasan peserta didik pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan tindakan. Secara individual pada siklus II terdapat 5 peserta didik belum mencapai batas tuntas (KKM) 71. Mengingat masih terdapat 5 peserta didik yang belum mencapai ketuntasan minimal, maka kepada peserta didik bersangkutan diberikan layanan khusus sebagai layanan individual. Layanan individual tersebut direalisasikan melalui pelaksanaan program remedial. Materi pembelajaran yang digunakan untuk pelaksanaan program remedial tetap pengukuran. Layanan program remedial bagi peserta didik yang belum tuntas akan dilaksanakan dengan lebih memperhatikan karakteristik peserta didik bersangkutan secara individual. Dengan capaian tindakan dan refleksi akhir siklus II ditetapkan bahwa penelitian sudah memenuhi indikator keberhasilan penelitian. Dengan demikian, ditetapkan bahwa penelitian sudah dinyatakan berhasil sampai dengan pelaksanaan tindakan siklus II. Efektivitas pengguanaan model pembelajaran group investigation dalam pembelajaran materi pengukuran, ditunjukkan dengan capaian hasil belajar yang meningkat dari prasiklus, siklus I, dan berakhir pada siklus II. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran tentang pengukuran dengan menggunakan model pembelajaran group investigation dinilai efektif setelah pembelajaran pada siklus II.
V.PENUTUP
A. Simpulan
Hasil penelitian dapat disimpulan sebagai berikut.
1. Penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit pada materi pengukuran yang secara klasikal ditunjukkan dengan ketuntasan peserta didik mencapai 87% yang melampaui indikator keberhasilan penelitian sebesar 85%.
2. Penerapan model pembelajaran group investigation dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas VIII R1 SMP Negeri 3 Sampit pada materi pengukuran dengan capaian nilai rata-rata kelas sebesar 81 yang melampaui KKM sebesar 71.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, disampaiakan saran sebagai berikut:
1. Guru matematika hendaknya menerapkan model pembelajaran group investigation untuk meningkatkan hasil belajar matematika, khususnya pada materi pengukuran.
2. Kepala sekolah hendaknya memotivasi guru untuk senantiasa mengembangkan inovasi pembelajaran yang dapat dilakukan melalui penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta.
Depdiknas, 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP. Jakarta: Depdiknas.
Depdikbud, 1993. Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Matematika. Jakarta : Depdikbud.
Degeng, 1997. Strategi Pembelajaran Mengorganisasi Isi dengan Model Elaborasi. Malang : IKIP MALANG
Gipayana, Michana dkk. 2005. Sekoah Dasar Kajian Teori dan Praktek pendidikan. Malang. UM
Hamalik Oemar, 1980. Media Pendidikan. Bandung : Alumni
Karso, 2005. Pendidikan Matematika I. Jakarta : Pusat Pendidikan UT
Soedjadi, 1994. Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : Dikti
Witjaksono. 2010. Interprestasi Skor. Jakarta: Puspendik

Update : Sabtu, 20 Februari 2016 , Kontributor berita : FMKKS KOTIM

[Isi Opini]

[ Kembali ]